Karena belakangan saya mengalami mabuk darat terutama jika harus bepergian jarak jauh malam hari menggunakan bus, maka pada perjalanan kali ini saya dan istri memutuskan menggunakan moda angkutan kereta api. Seperti biasa kami memesan tiket pergi pulang langsung di stasiun Gambir untuk mengantisipasi penumpang yang membeludak karena perjalanan kali dilakukan pada akhir pekan. Tujuan kami kali ini adalah Purwokerto.
Hari Sabtu 25 Oktober 2008 sesuai jadwal yang ditentukan kereta berangkat tepat pukul 8.15. Selepas stasiun Jatinegara ada tiga orang laki-laki yang dari penampilannya cukup perlente terlihat kebingungan mencari-cari tempat duduk dan kemudian istri saya bertanya mereka hendak duduk di kursi nomor berapa tapi mereka mengatakan tidak tahu nomor kursinya berapa, akhirnya karena kebetulan kondisi kereta juga tidak terlalu penuh akhirnya mereka duduk di kursi depan dan sebelah kanan saya. Sepanjang perjalanan menuju Cirebon ada satu kali pemeriksaan karcis yang dilakukan oleh dua orang petugas PTKA. Saya tidak begitu memperhatikan apakah ketiga laik-laki tadi juga diperiksa karcisnya. Namun setelah dari stasiun Cirebon tepatnya di daerah Purworejo kereta berhenti dan tidak lama kemudian terdengar teriakan dari seorang Polisi bersenjata bahwa akan ada pemeriksaan karcis lagi. Kali ini dengan ditemani Polisi tersebut seorang petugas PTKA datang untuk memeriksa karcis, setelah memeriksa karcis saya kemudian petugas itu meminta karcis dari ketiga laki-laki tadi dan kebetulan kali ini saya memperhatikan mereka tapi yang terjadi adalah tiga laki-laki itu menyelipkan masing-masing selembar uang Rp 10,000 (sementara harga tiket asli mencapai Rp 130,000) di tangan petugas PTKA itu dan hal ini juga diketahui oleh Polisi yang menemani tadi. Kemudian ada sedikit percakapan diantara mereka dan dari situ dapat disimpulkan bahwa ketiga laki-laki itu sudah terbiasa melakukan praktek penyuapan di atas kereta karena saking seringnya mereka bepergian pada rute yang sama sampai-sampai petugas PTKA sudah cukup mengenal. Saya jadi bertanya dalam hati jangan-jangan di rangkaian kereta ini masih banyak orang lain yang melakukan praktek yang sama.
Setibanya di Purwokerto saya sempatkan untuk bertanya kepada beberapa orang penumpang yang ada di stasiun, dan ternyata memang praktek penyuapan itu sudah lumrah dilakukan bahkan ada yang hanya cukup membayar Rp 5,000 sudah bisa bepergian Jakarta-Purwokerto dan begitu juga sebaliknya. Sementara itu ironisnya di salah satu dinding stasiun tertempel spanduk pengumuman besar “Barangsiapa tertangkap tidak memiliki karcis harus membayar denda dua kali lipat harga tiket”, saya hanya tersenyum miris melihatnya.
Kejadian persis sama juga terulang ketika perjalanan pulang ke Jakarta.
Apakah sudah begitu parahnyakah mental rakyat Indonesia? padahal kalau dilihat dari segi penampilan ketiga laki-laki yang saya temui tadi terlihat mampu, sepanjang perjalanan bisa jajan jajanan kereta yang notabene cukup mahal dibandingkan jajanan sejenis biasa, sepanjang perjalanan juga mampu terus-terusan bertelepon ria dengan relasi entah dimana..
Lalu bagaimana juga dengan mental petugas pelayan masyarakat terutama lagi Polisi yang seharusnya menjadi garda terdepan penegakan hukum malah ikut-ikutan merestui dan kemungkinan besar terlibat dan menikmati uang hasil suap itu.
Pantas saja kalau PTKA selalu teriak merugi tiap tahun dalam laporan keuangannya, pantas saja PTKA tidak punya cukup dana untuk merawat kereta-kereta dan jaringan relnya. Pantas saja selalu terjadi kecelakaan KA dimana-mana.
Polisi??? sedari dulu saya tidak pernah percaya kalau ada Polisi yang jujur kecuali Polisi tidur. Amit-amit jabang bayi dengan mereka.
Sepertinya rakyat Indonesia ga perlu mimpi muluk-muluk untuk hilangnya korupsi dari negeri ini lah wong sendirinya saja masih banyak yang korup..wajar aja polisinya korup, wajar aja pengacaranya korup, wajar aja jaksanya korup, wajar aja hakimnya korup, wajar aja parpolnya, wajar aja pemerintahnya korup, wajar aja dong Indonesia juara dunia korup..
Seperti kata Aa Gym segalanya harus dimulai dari diri sendiri. tapi apa yang terjadi????
OMDO lo semua !!!! (omong doang red.)Technorati Tags: kereta, korupsi, suap, polisi, karcis, tiket, berita, curhat
Filed under: Uncategorized

